Berita dari Blora

Blognya Orang Blora

Selamat Menempuh Hidup Baru

Kami ucapkan selamat menempuh hidup baru kepada:

Mas Basuki Wawan (Basuki) ‘87

dan

mbak Astie (Dianeka Prasasti)’91

yang telah melangsungkan pernikahan pada hari Sabtu
tgl 5 Juli 2008. Semoga berhasil membangun keluarga yang bahagia,
sakinah, warohmah dan mawaddah.
Perayaan berlangsung di Gedung Sasana Bakti Alun-alun Blora pk.
12.00 -14.00.

Kedua penganten yang dibalut busana warna emas tampak
berbinar-binar bahagia menerima ucapan selamat daripara undangan
yang hadir.

Baca selebihnya »

15 Juli 2008 Ditulis oleh mus | Sekilas Info | , , | & Komentar

Pembuat Kereta Kambing di Blora

Dibuat Untuk Anak Sendiri, Malah Digemari Warga

[JAWA POS, Selasa 15 Juli 2008] – Kereta kecil itu berjalan pelan. Tiga orang penumpang kereta itu, dua anak-anak dan satu lelaki dewasa duduk santai, sambil menikmati indahnya pagi di kampung Kaliwangan. Sesekali, lelaki dewasa itu menarik tali kekang untuk mengendalikan laju kereta dari kayu itu. Anehnya, bukan kuda atau sapi yang menarik kereta dua roda itu, namun seekor kambing jenis domba.

Pemandangan itulah yang hampir setiap hari disaksikan warga dukuh Kaliwangan, saat sang pemilik kereta kambing itu, Henu Mulyono,43, mengakak jalan-jalan anaknya. Ya, kereta kambing itu dibuat bapak tiga anak itu untuk memanjakan anak-anaknya. Dengan kereta kambing itu, Henu, ngemong anak-anaknya. Karena anak pertamanya,Mulya Amar Fidani sudah SMP, yang sering diajak jalan-jalan dengan kereta kambing rancangannya, adalah anak kedua dan ketiga, Dwi Rahmad Mulyawan,8, dan Hananti Mulya Farida,3. ”Selain keliling kampung, saya sering jalan sampai Alun-Alun Kota,” ujar Henu.

Kereta kambing itu dirancang, semula memang untuk anaknya. Namun, keunikannya membuat para tetangganya tertarik. Sehingga tak jarang yang menitipkan anaknya untuk menikmati goyangan kereta yang ditarik kambing itu. Meskipun harus membayar, orantua tidak eman, karena anak-anaknya ternyata senang. ”Lama-lama, semakin banyak yang tertarik. Kalau di Alun-Alun, setiap satu putaran membayar Rp 2 ribu,” ujarnya. Baca selebihnya »

15 Juli 2008 Ditulis oleh mus | Sekilas Info | , | 1 Komentar

Minyak mentah dihargai Rp 360/liter

[WAWASAN DIGITAL] – Bupati Blora RM Yudhi Sancoyo mengungkapkan keprihatinnya atas keluhan para penambang minyak tradisional yang pendapatannya rendah karena dihargai sebagai buruh panggul. ”Masak satu liter crude oil (minyak mentah/latung) hanya dihargai Rp 360/liter, padahal harga minyak sangat tinggi,” katanya, Minggu (6/7).

Menurutnya, warga Desa Nglobo dan sekitarnya, juga warga penambang tradisional, berencana menggelar aksi demo ke Pertamina, terkait hasil tambangnya yang setiap liter minyak mentah hanya dihargai Rp 360.

Rencana demo itu sementara bisa diredam bupati, dengan janji dia memperjuangkan nasib para penambang minyak tradisional ke pusat (Pertamina), sekaligus berjuang untuk merealisasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus mengelola sumur minyak (minyak sumur tua).

”Di luar seperti Cirebon, Jawa Timur dan Kudus harga minyak mentah dapat laku Rp 1.250 sampai Rp 2.000 per liternya. Sedang di Blora yang beli koperasi Pertamina sendiri malah hanya Rp 360/liter,” ujar Yudhi Sancoyo. Baca selebihnya »

15 Juli 2008 Ditulis oleh mus | Sekilas Info | , | No Comments Yet

Kekeringan : Balada Becak-becak Air Blora

[KOMPAS]. Bagi sejumlah tukang becak di kota Blora, Kabupaten Blora, musim kemarau merupakan musim ngunduh atau menuai rezeki. Mereka tak lagi menarik penumpang, melainkan melayani pembelian air warga kota Blora. Pendapatan dari menjual air itu berlipat-lipat dibandingkan pendapatan dari menarik penumpang.

Kamis (10/7) siang, Tarimin (44), tukang becak Desa Kauman, kota Blora, Kabupaten Blora, mengisi enam jeriken kapasitas 35 liter di Sumur Kunthing, Desa Mlangsen, kota Blora, secara gratis. Setelah terisi penuh, satu per satu jeriken itu dinaikkan ke becak.

“Satu becak air berisi enam jeriken, harganya Rp 6.000. Harga itu naik dibandingkan tahun kemarin, Rp 5.000,” kata pria yang mengayuh becak sejak tahun 1995 itu.

Pada musim kemarau, Tarimin dapat menjual air sebanyak 15 becak per hari. Tak heran jika setiap hari ia membawa uang bagi keluarganya Rp 90.000. Pendapatan itu jauh lebih besar dibandingkan menarik penumpang, yaitu Rp 10.000Rp 20.000 per hari. Baca selebihnya »

15 Juli 2008 Ditulis oleh mus | blora | , | No Comments Yet