Pembuat Kereta Kambing di Blora
Dibuat Untuk Anak Sendiri, Malah Digemari Warga
[JAWA POS, Selasa 15 Juli 2008] – Kereta kecil itu berjalan pelan. Tiga orang penumpang kereta itu, dua anak-anak dan satu lelaki dewasa duduk santai, sambil menikmati indahnya pagi di kampung Kaliwangan. Sesekali, lelaki dewasa itu menarik tali kekang untuk mengendalikan laju kereta dari kayu itu. Anehnya, bukan kuda atau sapi yang menarik kereta dua roda itu, namun seekor kambing jenis domba.
Pemandangan itulah yang hampir setiap hari disaksikan warga dukuh Kaliwangan, saat sang pemilik kereta kambing itu, Henu Mulyono,43, mengakak jalan-jalan anaknya. Ya, kereta kambing itu dibuat bapak tiga anak itu untuk memanjakan anak-anaknya. Dengan kereta kambing itu, Henu, ngemong anak-anaknya. Karena anak pertamanya,Mulya Amar Fidani sudah SMP, yang sering diajak jalan-jalan dengan kereta kambing rancangannya, adalah anak kedua dan ketiga, Dwi Rahmad Mulyawan,8, dan Hananti Mulya Farida,3. ”Selain keliling kampung, saya sering jalan sampai Alun-Alun Kota,” ujar Henu.
Kereta kambing itu dirancang, semula memang untuk anaknya. Namun, keunikannya membuat para tetangganya tertarik. Sehingga tak jarang yang menitipkan anaknya untuk menikmati goyangan kereta yang ditarik kambing itu. Meskipun harus membayar, orantua tidak eman, karena anak-anaknya ternyata senang. ”Lama-lama, semakin banyak yang tertarik. Kalau di Alun-Alun, setiap satu putaran membayar Rp 2 ribu,” ujarnya.
Uang yang terkumpul itu, kata lelaki penggelar ternak ini, digunakan untuk membiayai dan merawat kambing yang menarik kereta itu. Sebab, lanjut suami Sri Hartatik,38, itu, untuk memelihara dan menjaga kesehatan kambingnya, setiap minggu dua kali diberi jamu. Jamunya, kata dia, telor bebek, madu dan kapsul suplemen. Sekali minum, kata dia, empat butih telor bebek, dan satu pil suplemen habis. Satu butir telor dia beli Rp 1.000. ”Untuk madu, setiap bulan habis satu botol, ya sekitar Rp 20 ribu harganya,” terangnya.
Henu mengaku sudah sekitar dua tahun mempunyai kereta kambing itu. Karena menariknya, bukan hanya akan kecil saja yang ingin naik. Karena, ada mempelai yang pernah menyewa kereta kambingnya itu untuk acara mantenan. Sedangkan, untuk acara sunatan, dia mengaku sudah tak terhitung lagi. Setiap kali sewa, biasanya penyewa membayar Rp 200 ribu. ”Kambing saya ini, maksimal bobot 150 kilogram, masih mampu menarik,” akunya bangga. Karena itu, katanya, untuk dinaiki dua mempelai masih kuat.
Ternyata, kata dia, sebelum menemukan kambing yang pas sebagai penarik keretanya, dia berkali-kali bereksperimen dengan berbagai jenis kambing. Untuk menjajal kemampuan kambingnya, dia menetapkan rute rumahnya sampai Alun-Alun Kota, yang berjarak sekitar satu kilometer pulang pergi. ”Pernah saya pakai kambing Jawa, begitu sampai Alun-Alun langsung tergeletak, karena tidak kuat,” katanya.
Lain kali, katanya, dicoba dengan jenis kambing etawa yang tinggi besar. Namun, nafas kuda jenis ini, menurutnya juga tidak terlalu kuat, karena saat diujicoba juga tidak begitu kuat. ”Hanya badannya saja yang besar. Nafasnya tidak kuatm wong setelah dua kilometer juga loyo,” ungkapnya.
Sampailah kemudian dia menemukan jenis domba itu. Hanya, kata dia, tidak sembarang domba yang dia gunakan, karena dia memilih domba yang bagus. Harganya, kata dia, di atas Rp 1 juta. Kambing jenis ini, katanya juga kuat larinya. ‘’setelah ketemu yang cocok, tidak ganti lagi,” ujarnya.
Sampai saat ini, masih ada harapannya yang belum tercapai, yakni membuat beberapa lagi kereta serupa. Tujuannya, kata dia, agar bisa digunakan para pemuda di desanya yang masih menganggur untuk mencari penghasilan. Sebab, katanya, kalau kereta yang dia miliki bukan untuk mencari penghasilan semata. Sebab, dia menggunakan keretanya saat dia ada waktu senggang, seusai dia mengerjakan tugas di kantor PDAM Blora tempatnya bekerja. ”Ya istilahnya untuk tambahan saja,” kata dia.
Selain itu, kambing yang menarik keretanya itu tergolong manja. Kalau tidak dia sendiri yang mengendalikan tidak mau. Hal itu disebabkan, karena sejak kecil yang memelihara kambing itu adalah Henu. Sehingga,. Kalau kereta itu disewa orang, dia harus ikut mendampingi. ”di situlah repotnya. Kalau saya punya banyak, bisa dikaryakan,” tegasnya. (*)













Kami mengundang segenap masyarakat Blora dari berbagai golongan dan elemen untuk bersama-sama memajukan Kota Blora disegala bidang dengan semangat persatuan dan kesatuan.
Segera bergabung dengan Situs Komunitas Masyarakat Blora.
Sumbangkan pemikiran anda untuk kemajuan Blora tercinta.
Salam Hangat.